Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membuat hitung-hitungan sederhana, dengan berkedokan penurunan carbon footprint saya (lihatlah, betapa mulianya tujuan saya). Caranya? Sederhana! Sebelumnya, saya selalu naik ojek dari rumah hingga depan kompleks setiap harinya. Sekarang, saya melakukan shifting transportation mode dari ojek ke jalan kaki. Jarak yang paling-paling hanya 1 kilometer saya tempuh setiap harinya, membuat saya dapat menabung Rp. 3500/hari; dikalikan dengan 26 hari (jumlah total hari saya menggunakan ojek) lalu dikalikan 12. Hasilnya? Saya bisa membeli sepatu olahraga tanpa discount!!!
Selang beberapa minggu, saya kemudian mendengar adanya penjualan alat-alat untuk membuat kompos seharga sekitar Rp. 170.000 per paketnya (lengkap dengan kompos untuk 'mancing'nya - ini mau buat kompos atau mancing ikan sih?). Kalau saya hitung dari uang simpanan ojek saya, itu artinya, saya harus berjalan kaki kurang lebih dua bulan, untuk dapat membeli peralatan tersebut dengan menggunakan uang ojek saya.
Hasil yang saya dapatkan? Tentu saja saya jadi punya stock kompos segar per dua bulannya dan pada saat yang bersamaan, saya mereduksi sampah organik saya hingga 292.8 kg sampah organik per dua bulan (asumsi: per kapita menghasilkan rata-rata 0.61 waste/cap/day. Jumlah cap di rumah saya adalah 8 orang). Wow!!!
Hasilnya lagi? Coba hitung berapa emisi yang bisa saya reduksi dalam 2 bulan? *hitung sendiri ya*
Dari pengalaman sederhana tersebut, saya jadi berpikir, hey, ternyata saya tidak memerlukan suntikan dana dari mana pun untuk melakukan kegiatan mitigasi skala kecil. Cukup dengan melakukan shifting transportation mode, saya bisa melakukan kegiatan mitigasi yang berangsur-angsur semakin banyak mereduksi emisi. Pemikiran ini dan pengalaman sederhana tersebut, memicu saya untuk membuat causal loop di bawah ini:
Dari causal loop diatas, saya jadi berkesimpulan, bahwa negara-negara berkembang pun bisa melakukan kegiatan mitigasi tanpa harus menunggu yang namanya pinjaman atau dana hibah. Karena menurut saya, selama ini hambatan selalu terjadi pada dana. Tetapi, kalau kita melakukan penghematan (energi misalnya), potensi terbangkitkannya dana pun cukup besar.
Summary for Policymaker IPCC di AR4 tahun 2007, Poin 7 sub-poin 1 mengatakan bahwa:
Changes in lifestyles and consumption patterns that emphasize resource conservation can contribute to developing a low-carbon economy that is both equitable and sustainableSaya rasa, seharusnya kita bisa melakukannya, asal kita mau dan berniat untuk melakukannya. Saya juga bisa membeli perangkat pembuat kompos, karena saya mau berjalan kaki dan beralih dari ojek. Memang di awalnya sulit, tapi ke depannya, pasti sudah biasa.
Jadi, kita semua bisa melakukan kegiatan mitigasi perubahan iklim kok!!!
Yuk!
ime'...