Tuesday, February 15, 2011

Konservasi: Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui

Konservasi merupakan sebuah aktivitas yang kerap dikaitkan dengan kegiatan yang berhubungan dengan penyelamatan hutan. Namun, bahasa konservasi sendiri lebih banyak digunakan oleh orang-orang dengan latar belakang akademis dan juga pemerintah; sedikit dari masyarakat, terutama di desa, yang kenal dengan istilah 'tinggi' bernama konservasi. Yang mereka mengerti adalah dengan berhenti menebang pohon di hutan, mereka terhindar dari bahaya longsor, banjir atau hal lainnya. Menurut saya pribadi, konservasi secara definisi tidak akan pernah memberi arti yang sebenarnya. Namun, konservasi secara aktivitas akan memberikan arti yang terbenar dari apa yang ada. Belajar dari masyarakat Cibuluh, saya jadi menyadari pentingnya kegiatan konservasi; bukan hanya untuk mereka, namun juga bagi saya dan anda.


Masyarakat Cibuluh dulunya terkenal dengan kegiatan penebangan hutan yang ilegal. Entah berapa hektar lahan hutan di Gunung Simpang telah dibabat habis bagi masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Dampak dari ketiadaan lahan yang cukup ditumbuhi oleh pepohonan yang sepadan, membuat desa Cibuluh mengalami kekeringan hingga longsor. Tingginya frekuensi kekeringan dan longsor ini, kemudian membuat warga Cibuluh berpikir ulang mengenai kegiatan penebangan hutan yang ilegal tersebut. Bahkan, mereka membentuk sebuah pasukan patroli hutan bernama Raksabumi, yang bertugas untuk menindak siapa saja yang melakukan kegiatan penebangan ilegal. Hingga hari ini, sedikit demi sedikit warga Cibuluh mulai berpaling pada kegiatan penyelamatan hutan ketimbang pembabatan hutan. Hasilnya, penduduk Cibuluh kini dapat menikmati irigasi yang berkelanjutan, tak pernah kehabisan air alam, dan yang terpenting, warga Cibuluh kini bisa membangkitkan listrik dengan menggunakan air di sungai yang ada.


Adanya pembangkit listrik tenaga air yang beredar di Cibuluh membuat saya berpikir panjang mengenai pentingnya kesadaran masyarakat tentang konservasi; dalam hal ini, konservasi hutan. Coba kita bayangkan apabila kita adalah warga Cibuluh, yang merupakan penebang liar. Mungkin kita akan berpikir, "Buat apa saya berhenti menebang kayu di hutan yang banyak kayunya ini? Toh, saya pasti bisa beli segala sesuatunya, semua bahkan air. Kalau saya tidak menebang kayu, penghasilan saya akan lebih rendah, dan saya malah tidak bisa bertahan hidup." Ya benar juga, mata pencaharian apa sih yang bisa menggantikan penjualan kayu log kepada orang di luar desa tersebut, yang hasil nominal uangnya sama. Kebanyakan orang di desa pasti akan memikirkannya dua kali. Namun, keputusan dari warga Cibuluh benar-benar memberikan tawaran yang berbeda.


Warga Cibuluh saat ini menikmati listrik dengan harga yang terjangkau karena upaya mereka juga pengorbanan mereka dalam mendukung kegiatan konservasi hutan. Dan dengan kenikmatan ini, mereka giat melakukan kegiatan patroli demi kelangsungan hutan di desa mereka, sehingga ketersediaan air mereka dapat terjaga dengan baik.

Itu sebabnya, upaya konservasi (dalam hal ini hutan) kerap memberikan begitu banyak hal lainnya: membantu daerah setempat untuk memiliki akses pada listrik dari sumber daya yang terbarukan, membantu daerah untuk mengantisipasi kekurangan air yang mungkin terjadi, atau mungkin menghindari terjadinya longsor, karena pohon yang ada akan berakar sangat kuat ke dalam tanah untuk menjadi penahan bagi tanah tersebut apabila hujan datang.


Walaupun melakukan kegiatan konservasi seringkali tidak dapat dilihat hasilnya dari semenjak pertama kali ide konservasi dijalankan, namun kegiatan konservasi memberikan begitu banyak keuntungan yang dapat dinikmati oleh masyarakat setempat. Banyak orang juga masih tidak percaya akan dampak dari sebuah kegiatan konservasi. Namun, belajar dari Cibuluh, dimana kegiatan konservasi dapat melahirkan begitu banyak hal, maka dapat dipastikan bahwa kegiatan konservasi pasti akan memberikan dampak yang positif. Dan itu, telah dibuktikan oleh masyarakat Cibuluh. Jadi seharusnya, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak mendukung kegiatan konservasi dimana pun di Indonesia ini yang memunginkan. Sekali kita melakukan konservasi, maka satu dua kegiatan yang tadinya tidak mungkin, pastinya akan terlaksana.


ime'...

Monday, April 26, 2010

Suara-Suara Diri

Salah satu keunikan dari naik angkutan umum, terutama bis kota, adalah kesempatan untuk melihat beberapa orang beraksi dengan apa yang mereka sebut sebagai kebisaan mereka. Tentu saja, kebanyakan dari mereka adalah pengamen-pengamen jalanan. Kebanyakan pengamen yang saya temukan bersuara ngaco, tapi segelintir orang bersuara emas; dan salah satu pengamen bersuara emas, saya temukan pagi ini di bis yang saya tumpangi.

Bersamaan dengan itu, saya sedang membaca buku tentang passion. Sempat terbersit di kepala saya, apakah orang-orang bersuara emas ini, terpaksa mengamen sebagai ungkapan diri mereka? Well, saya nggak paham sih. Tapi, yang saya paham adalah pengamen itu benar-benar menikmati keadaannya pada saat ia menyanyikan lagu itu. Bagaimana saya bisa mengetahuinya, karena saya melihat bagaimana kaki si pengamen tersebut mengikuti beat lagu yang dimainkannya.

Saya jarang sekali memberikan uang pada pengamen; tapi, kalau menurut saya pengamen itu memang punya potensi, mengapa tidak? Toh, saya juga seringkali mendapatkan uang karena saya berkarya lewat apa yang saya bisa.

Lucu yah... suara-suara diri itu, tidak selalu membawa kita pada harta. Tapi yang jelas, suara-suara diri selalu membawa kita pada kebetahan dan kecukupan dalam hidup.

Atau tidak?

ime'...

Tuesday, February 02, 2010

Muka 'Micin'

Note: Micin adalah sebutan beberapa orang untuk penyedap makanan.

Pulang kantor di atas jam 7 malam membuat saya inginnya naik taksi menuju rumah, yang jaraknya tidak seberapa jauh dari kantor. Lelah, pekerjaan juga belum selesai, membopong laptop di punggung melengkapi 'penderitaan' saya di hari Selasa. Itu sebabnya, naik taksi menjadi sebuah alternatif yang menggiurkan bagi saya.

Saya pun kemudian menyetop taksi di jalan, untuk mengantarkan saya pulang.

Tak berapa lama setelah saya menaiki taksi tersebut, sang pengemudi angkat bicara. "Ibu, apakah ibu sudah berkacamata?" Walaupun saya menggunakan soft lens, bisa saja saya iseng mengingkarinya; tapi, saya memilih jujur. Lalu, mulailah rentetan kalimat dengan intonasi tegas dan bernada 'menjual produk' keluar dari mulutnya.

"Mie, telur, ayam dan es," itu adalah kalimat yang ia keluarkan. Ia berkata-kata bak penjual yang sedang menjual dagangannya, "Boleh ya, bu, dilihat saja bu. Pisau ini banyak kegunaannya, bisa untuk memotong buah, daging, atau jari," yah... seperti itulah. Saya pun mendengarkan.

Perkataan beliau memberikan celah berpikir bagi saya untuk mencerna kata-katanya. "Saya sudah mengalami yang namanya asam urat, bu. Lalu, saya berhenti mengkonsumsi mie, telur ayam broiler, ayam broiler dan es. Sekarang, saya tidak pernah lagi bermasalah dengan asam urat saya," demikian kesaksiannya. Lalu ia menambahkan, tentang bagaimana orang 'jaman dulu' justru memiliki ketahanan yang lebih ketimbang orang 'jaman sekarang'. Itu pun, saya harus mengakui beliau benar. Orang-orang jaman sekarang, kerentanannya semakin tinggi; sulit menyusui karena air susunya kurang, dan beberapa contoh lainnya.

Saya mencoba merekap dan menganalisa perkataan-perkataannya. Tapi, sekali lagi, saya memang harus mengakui kebenaran analisa-nya yang beliau sampaikan melalui perkataannya. Saya berkesimpulan bahwa zaman sekarang sudah sangat berubah dengan segala kemudahannya. Kemudahan yang membawa pada kenikmatan dan puas diri. Tapi ternyata, tidak semua kemudahan itu berdampak baik pada kita.

Saya jadi belajar, bahwa di dalam hidup ini, kita harus pintar dalam memilih situasi dan kondisi untuk kita hidup. Kemudahan tidak selamanya baik; ada proses yang memang harus kita lewati untuk menjadi manusia yang lebih baik. Walau terkadang, rasanya ingin sekali seluruh proses-proses ini hilang hanya dengan jentikan jari.

Pada akhirnya, saya berkesimpulan, bahwa seluruh keinstanan dan juga jalan-jalan yang (terlihat) indah tidak selalu berdampak baik. Muka Micin, menjadi bukti yang paling kuat.

ime'...

Wednesday, June 03, 2009

Mitigasi Perubahan Iklim: Kita Juga Bisa, Kok!!!

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membuat hitung-hitungan sederhana, dengan berkedokan penurunan carbon footprint saya (lihatlah, betapa mulianya tujuan saya). Caranya? Sederhana! Sebelumnya, saya selalu naik ojek dari rumah hingga depan kompleks setiap harinya. Sekarang, saya melakukan shifting transportation mode dari ojek ke jalan kaki. Jarak yang paling-paling hanya 1 kilometer saya tempuh setiap harinya, membuat saya dapat menabung Rp. 3500/hari; dikalikan dengan 26 hari (jumlah total hari saya menggunakan ojek) lalu dikalikan 12. Hasilnya? Saya bisa membeli sepatu olahraga tanpa discount!!!

Selang beberapa minggu, saya kemudian mendengar adanya penjualan alat-alat untuk membuat kompos seharga sekitar Rp. 170.000 per paketnya (lengkap dengan kompos untuk 'mancing'nya - ini mau buat kompos atau mancing ikan sih?). Kalau saya hitung dari uang simpanan ojek saya, itu artinya, saya harus berjalan kaki kurang lebih dua bulan, untuk dapat membeli peralatan tersebut dengan menggunakan uang ojek saya.

Hasil yang saya dapatkan? Tentu saja saya jadi punya stock kompos segar per dua bulannya dan pada saat yang bersamaan, saya mereduksi sampah organik saya hingga 292.8 kg sampah organik per dua bulan (asumsi: per kapita menghasilkan rata-rata 0.61 waste/cap/day. Jumlah cap di rumah saya adalah 8 orang). Wow!!!

Hasilnya lagi? Coba hitung berapa emisi yang bisa saya reduksi dalam 2 bulan? *hitung sendiri ya*

Dari pengalaman sederhana tersebut, saya jadi berpikir, hey, ternyata saya tidak memerlukan suntikan dana dari mana pun untuk melakukan kegiatan mitigasi skala kecil. Cukup dengan melakukan shifting transportation mode, saya bisa melakukan kegiatan mitigasi yang berangsur-angsur semakin banyak mereduksi emisi. Pemikiran ini dan pengalaman sederhana tersebut, memicu saya untuk membuat causal loop di bawah ini:



Dari causal loop diatas, saya jadi berkesimpulan, bahwa negara-negara berkembang pun bisa melakukan kegiatan mitigasi tanpa harus menunggu yang namanya pinjaman atau dana hibah. Karena menurut saya, selama ini hambatan selalu terjadi pada dana. Tetapi, kalau kita melakukan penghematan (energi misalnya), potensi terbangkitkannya dana pun cukup besar.

Summary for Policymaker IPCC di AR4 tahun 2007, Poin 7 sub-poin 1 mengatakan bahwa:
Changes in lifestyles and consumption patterns that emphasize resource conservation can contribute to developing a low-carbon economy that is both equitable and sustainable
Saya rasa, seharusnya kita bisa melakukannya, asal kita mau dan berniat untuk melakukannya. Saya juga bisa membeli perangkat pembuat kompos, karena saya mau berjalan kaki dan beralih dari ojek. Memang di awalnya sulit, tapi ke depannya, pasti sudah biasa.

Jadi, kita semua bisa melakukan kegiatan mitigasi perubahan iklim kok!!!

Yuk!

ime'...

Tuesday, May 26, 2009

Things that I don't understand about Climate Change Negotiation (Part 2): Don't They Know about Limits to Growth?

If you read my previous post (Part 1), you will probably wonder why was I so bothered with climate change negotiation and also about the upper limit of CO2 concentration in the atmosphere. Well, you might be as concerned as I do after reading the rest of this post.

We're all living in a cycle; from dust to dust term is literally and absolutely applied . Not only to human, but also our mother earth system. People says that to raise our economic growth, we need to boost our industrial sectors. No doubt about it. Yet, as long as our industries still depending on natural resources, then we really have to forget about economic growth. Our growth will be limited to the natural resources availability. Moreover, the change in the climate system, could eventually effecting not only the qu
ality of our natural resources, but also its quantity.

As an example: let's say that to increase our economic growth, fisheries sector will add up to 500% of its ships to maintain our protein supply (fisheries in the food security) slightly above the average limit of protein needed per cap per consumption. As time gone by, fishes become scarce, thus fishermen need to catch fishes further to the sea. As they gone further to the sea, they have to spend more money on the fuel.



The above description shows us that natural resources has its limits. It has been in human blood for years that after we reap, we newer sow back. What will happen is our resources become scarcer, food security will be threaten and hunger will be spread around the world.

In addition, climate change is happening where climate change would increase the sea water temperature, causing acidity which will effect the availability of oceanic natural resources.

Reflecting on the example above, the higher concentration of CO2 in the atmosphere (which will change the earth's temperature) will decrease the quality of natural resources in which we're much depend on. The higher the temperature, it is highly likely (if i may borrow IPCC's term) that the earth will be vulnerable in terms of food security. If there's no food, how can human be able to work to develop their own country and increasing their economic growth?

I don't think many people who deal with negotiation in climate change would think the same. Yet, they keep flying to meetings venues, emitting CO2 and those who already in deep trouble because of food scarcity, will always be in trouble, waiting to be washed away by the CO2 concentration that will increase...

What an ironic...


ime'...
Things that I don't understand about Climate Change Negotiation: When Will they Agreed to really Combating Climate Change? (Part 1)

It is really been awhile since the last time I worked on Climate Change negotiation issues. When i finally get the chance to work on it again, I don't see many progresses on the issues; which made me think, that I'm not that far left behind.

In the shared vision side for example; the negotiation is still going on issues what is the maximum carbon dioxide concentration in the atmosphere as the limit? As countries talking about it (and tried to reach an agreement), all delegates are flying back and forth from their contries to the meetings venue. Bloomberg had mentioned that in 2007, as the Climate Change conferences held in Bali, each delegate would produce around 4.07 metric tons of carbon dioxide to reach Nusa Dua which is located around 950 km (600 miles) from Jakarta. Not to mention the amount of CO2 they produce from their countries to Jakarta.

Another issue that confuses me is the additional (new) terms I found that complicated things. Let's say MRV (Measurable, Reportable, Verifiable), QELRO (Quantified Emission Limitation and Reduction Objective) and I bet there are many others.

On the Adaptation side, Adaptation Fund is still an issue. Until today, I have no idea how the fund can be accessed, which countries eligible to access the fund, what kind of activities are eligible, how to measure its success? Trust me, I have no idea at all.

Probably someone can do me a favor here by explaining to me about the issues mentioned above?

Thank you very much


ime'...

Sunday, April 19, 2009

Penipisan Lapisan Ozon dan Pemanasan Global Warming: Samakah?

Alasan mengapa saya menuliskan ini adalah karena saya sedikit heran dengan begitu banyaknya orang yang mengatakan pemanasan global itu 'bersekongkol' dengan penipisan lapisan ozon. Well, mereka memang 'bersekongkol' dalam merusak bumi, tapi mereka sama sekali tidak berhubungan.

Penipisan lapisan ozon disebabkan meningkatkan persentasi gas-gas yang bereaksi dengan ozon (O3) sehingga mengurangi kadarnya di atmosfir. Di pihak lain, lapisan ozon ini diperlukan untuk mengurangi penetrasi ultraviolet dari matahari; kalau kita berbicara tentang ultraviolet, maka kita berbicara mengenai radiasi. Efek radiasi terhadap kehidupan di bumi? Ozon disinyalir memberikan dampak pada sel-sel manusia yang berujung pada kanker. Semakin 'tebal' lapisan Ozon, maka semakin sedikit sinar ultraviolet yang menembus atmosfer untuk masuk ke bumi.

Di lain pihak, manusia juga membutuhkan ultraviolet ini guna menunjang ketersediaan vitamin D bagi setiap orang. Oleh karena itu, ozon perlu dijaga konsentrasinya sehingga kehidupan dapat berjalan.

Perubahan iklim sendiri disebabkan oleh penumpukan gas-gas rumah kaca di atmosfir yang menyebabkan panas matahari yang harusnya menembus bumi, menjadi terperangkap di atmosfir. Gas-gas rumah kaca ini memiliki fungsi untuk menyerap matahari dengan komposisi yang tepat, sehingga kelangsungan hidup di bumi memungkinkan.

Dari kedua penjelasan di atas, sebenarnya sudah cukup menjelaskan, bahwa penipisan lapisan ozon itu tidak sama dengan fenomena perubahan iklim; karena dari kedua hal tersebut, dapat dilihat bahwa konteknya sudah berbeda (yang satu ada hubungannya dengan radiasi sinar ultraviolet, sedangkan yang lain berhubungan dengan panas matahari tersebut (bukan radiasinya).

Walau demikian, pada saat kedua fenomena ini terjadi bersamaan, maka dampak yang diterima bumi berganda. Itu sebabnya, sebaiknya kedua fenoman ini dihindari.

Semoga penjelasan ini dapat memberikan sedikit pengertian tentang perbedaan keduanya.

ime'...

Wednesday, March 25, 2009

Sequences vs. Causes-Effects : A Way to Understand System Thinking

Beberapa hari yang lalu, salah seorang kolega di kantor saya membaca blog saya yang ini (karena memang saya lagi berusaha mempromosikan blog outer space saya untuk beberapa kalangan tertentu) dan menanyakan tentang system thinking. Saya sih senang-senang saja menjelaskannya, walaupun saya pribadi juga belum berada pada tahap yang advance, tapi saya berusaha memelihara ilmu tersebut dengan cara berlatih dan berlatih (lihat saja postingan-postingan sebelumnya, semuanya system thinking).

Saya memberikan ilustrasi mengenai apa yang akan terjadi pada saat kita merasa kesal di kantor akan berdampak pada hal-hal yang malah bisa membuat diri kita tambah kesal karena kita tidak berusaha untuk mengenali dan mengendalikannya di awal.


Bayangkan apabila anda mendapatkan masalah di kantor yang membuat anda menjadi sangat kesal. Tanpa anda sadari, anda membawa kekesalan tersebut pulang ke rumah. Karena anda tidak dapat mengendalikan kekesalan anda, anda jadi marah dan anda lampiaskan pada dogie anda dengan menendangnya. Spontan si dogie kesakitan, kesal juga; wong lagi tidur enak-enak, tiba-tiba ditendang. Pada saat yang bersamaan, seorang anak kecil berlari lalu lalang di hadapan sang dogie, spontan dogie yang sudah 'panas' menggigit sang anak.

Sang anak terkaing-kaing, eh, salah, menangis meraung-raung kepada sang ibu yang langsung membawa si anak ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan. Selidik demi selidik, sang ibu mendapati bahwa si anak digigit oleh dogie anda. Maka menghamburlah sang ibu kepada anda, guna meng-claim uang pengobatan yang ia lakukan. Anda mau tak mau membayar biaya pengobatan, yang tentu saja menambah kekesalan anda. Melihat dogie anda, pilihannya ada 2: anda kembali melampiaskan kekesalan anda pada dogie atau anda berpikir lain? Coba ingat apa yang dilakukan oleh dogie anda setelah anda tendang.

Seluruh kejadian diatas dapat digambarkan oleh lingkaran sebab-akibat dibawah ini.
Diagram di atas menggambarkan adanya hubungan sebab-akibat antara satu kejadian dengan kejadian yang lain.

Bagaimana dengan sequence?

Sequence berbicara mengenai urutan-urutan kejadian yang terjadi. Mengambil kasus di atas, maka penjelasan mengenai sequence dapat digambarkan dibawah ini.
System thinking sendiri tidak menganut pola berpikir sequence, namun causes-effects. Bagi saya yang adalah orang proses, membedakan hal ini menjadi sebuah tantangan tertentu bagi saya, karena sering kali saya malah membuat alur sequence ketimbang alur sebab-akibat.

Apabila diamati lebih dalam lagi, sequence memiliki lingkup yang lebih sempit ketimbang causes-effects, karena causes-effects melibatkan begitu banyak aktor dan elemen didalamnya sedangkan sequence umumnya hanya melibatkan satu aktor. Itu sebabnya pula analisa dengan menggunakan sequence tidak dapat menjelaskan sampai ke pihak lain, namun lebih didominasi oleh satu pihak.

Saya berharap dari penjelasan ini, akan ada banyak orang yang mengerti mengenai system thinking. Saya juga masih belajar, namun saya percaya, dengan memberikan informasi mengenai hal ini, saya juga semakin memiliki pengetahuan (when you give, you shall receive).

Jadi sekali lagi, sequence itu tidak sama dengan causes-effects dan system thinking menganut system dengan causes-effects ketimbang sequences.

ime'...