Wednesday, June 03, 2009

Mitigasi Perubahan Iklim: Kita Juga Bisa, Kok!!!

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membuat hitung-hitungan sederhana, dengan berkedokan penurunan carbon footprint saya (lihatlah, betapa mulianya tujuan saya). Caranya? Sederhana! Sebelumnya, saya selalu naik ojek dari rumah hingga depan kompleks setiap harinya. Sekarang, saya melakukan shifting transportation mode dari ojek ke jalan kaki. Jarak yang paling-paling hanya 1 kilometer saya tempuh setiap harinya, membuat saya dapat menabung Rp. 3500/hari; dikalikan dengan 26 hari (jumlah total hari saya menggunakan ojek) lalu dikalikan 12. Hasilnya? Saya bisa membeli sepatu olahraga tanpa discount!!!

Selang beberapa minggu, saya kemudian mendengar adanya penjualan alat-alat untuk membuat kompos seharga sekitar Rp. 170.000 per paketnya (lengkap dengan kompos untuk 'mancing'nya - ini mau buat kompos atau mancing ikan sih?). Kalau saya hitung dari uang simpanan ojek saya, itu artinya, saya harus berjalan kaki kurang lebih dua bulan, untuk dapat membeli peralatan tersebut dengan menggunakan uang ojek saya.

Hasil yang saya dapatkan? Tentu saja saya jadi punya stock kompos segar per dua bulannya dan pada saat yang bersamaan, saya mereduksi sampah organik saya hingga 292.8 kg sampah organik per dua bulan (asumsi: per kapita menghasilkan rata-rata 0.61 waste/cap/day. Jumlah cap di rumah saya adalah 8 orang). Wow!!!

Hasilnya lagi? Coba hitung berapa emisi yang bisa saya reduksi dalam 2 bulan? *hitung sendiri ya*

Dari pengalaman sederhana tersebut, saya jadi berpikir, hey, ternyata saya tidak memerlukan suntikan dana dari mana pun untuk melakukan kegiatan mitigasi skala kecil. Cukup dengan melakukan shifting transportation mode, saya bisa melakukan kegiatan mitigasi yang berangsur-angsur semakin banyak mereduksi emisi. Pemikiran ini dan pengalaman sederhana tersebut, memicu saya untuk membuat causal loop di bawah ini:



Dari causal loop diatas, saya jadi berkesimpulan, bahwa negara-negara berkembang pun bisa melakukan kegiatan mitigasi tanpa harus menunggu yang namanya pinjaman atau dana hibah. Karena menurut saya, selama ini hambatan selalu terjadi pada dana. Tetapi, kalau kita melakukan penghematan (energi misalnya), potensi terbangkitkannya dana pun cukup besar.

Summary for Policymaker IPCC di AR4 tahun 2007, Poin 7 sub-poin 1 mengatakan bahwa:
Changes in lifestyles and consumption patterns that emphasize resource conservation can contribute to developing a low-carbon economy that is both equitable and sustainable
Saya rasa, seharusnya kita bisa melakukannya, asal kita mau dan berniat untuk melakukannya. Saya juga bisa membeli perangkat pembuat kompos, karena saya mau berjalan kaki dan beralih dari ojek. Memang di awalnya sulit, tapi ke depannya, pasti sudah biasa.

Jadi, kita semua bisa melakukan kegiatan mitigasi perubahan iklim kok!!!

Yuk!

ime'...

Tuesday, May 26, 2009

Things that I don't understand about Climate Change Negotiation (Part 2): Don't They Know about Limits to Growth?

If you read my previous post (Part 1), you will probably wonder why was I so bothered with climate change negotiation and also about the upper limit of CO2 concentration in the atmosphere. Well, you might be as concerned as I do after reading the rest of this post.

We're all living in a cycle; from dust to dust term is literally and absolutely applied . Not only to human, but also our mother earth system. People says that to raise our economic growth, we need to boost our industrial sectors. No doubt about it. Yet, as long as our industries still depending on natural resources, then we really have to forget about economic growth. Our growth will be limited to the natural resources availability. Moreover, the change in the climate system, could eventually effecting not only the qu
ality of our natural resources, but also its quantity.

As an example: let's say that to increase our economic growth, fisheries sector will add up to 500% of its ships to maintain our protein supply (fisheries in the food security) slightly above the average limit of protein needed per cap per consumption. As time gone by, fishes become scarce, thus fishermen need to catch fishes further to the sea. As they gone further to the sea, they have to spend more money on the fuel.



The above description shows us that natural resources has its limits. It has been in human blood for years that after we reap, we newer sow back. What will happen is our resources become scarcer, food security will be threaten and hunger will be spread around the world.

In addition, climate change is happening where climate change would increase the sea water temperature, causing acidity which will effect the availability of oceanic natural resources.

Reflecting on the example above, the higher concentration of CO2 in the atmosphere (which will change the earth's temperature) will decrease the quality of natural resources in which we're much depend on. The higher the temperature, it is highly likely (if i may borrow IPCC's term) that the earth will be vulnerable in terms of food security. If there's no food, how can human be able to work to develop their own country and increasing their economic growth?

I don't think many people who deal with negotiation in climate change would think the same. Yet, they keep flying to meetings venues, emitting CO2 and those who already in deep trouble because of food scarcity, will always be in trouble, waiting to be washed away by the CO2 concentration that will increase...

What an ironic...


ime'...
Things that I don't understand about Climate Change Negotiation: When Will they Agreed to really Combating Climate Change? (Part 1)

It is really been awhile since the last time I worked on Climate Change negotiation issues. When i finally get the chance to work on it again, I don't see many progresses on the issues; which made me think, that I'm not that far left behind.

In the shared vision side for example; the negotiation is still going on issues what is the maximum carbon dioxide concentration in the atmosphere as the limit? As countries talking about it (and tried to reach an agreement), all delegates are flying back and forth from their contries to the meetings venue. Bloomberg had mentioned that in 2007, as the Climate Change conferences held in Bali, each delegate would produce around 4.07 metric tons of carbon dioxide to reach Nusa Dua which is located around 950 km (600 miles) from Jakarta. Not to mention the amount of CO2 they produce from their countries to Jakarta.

Another issue that confuses me is the additional (new) terms I found that complicated things. Let's say MRV (Measurable, Reportable, Verifiable), QELRO (Quantified Emission Limitation and Reduction Objective) and I bet there are many others.

On the Adaptation side, Adaptation Fund is still an issue. Until today, I have no idea how the fund can be accessed, which countries eligible to access the fund, what kind of activities are eligible, how to measure its success? Trust me, I have no idea at all.

Probably someone can do me a favor here by explaining to me about the issues mentioned above?

Thank you very much


ime'...

Sunday, April 19, 2009

Penipisan Lapisan Ozon dan Pemanasan Global Warming: Samakah?

Alasan mengapa saya menuliskan ini adalah karena saya sedikit heran dengan begitu banyaknya orang yang mengatakan pemanasan global itu 'bersekongkol' dengan penipisan lapisan ozon. Well, mereka memang 'bersekongkol' dalam merusak bumi, tapi mereka sama sekali tidak berhubungan.

Penipisan lapisan ozon disebabkan meningkatkan persentasi gas-gas yang bereaksi dengan ozon (O3) sehingga mengurangi kadarnya di atmosfir. Di pihak lain, lapisan ozon ini diperlukan untuk mengurangi penetrasi ultraviolet dari matahari; kalau kita berbicara tentang ultraviolet, maka kita berbicara mengenai radiasi. Efek radiasi terhadap kehidupan di bumi? Ozon disinyalir memberikan dampak pada sel-sel manusia yang berujung pada kanker. Semakin 'tebal' lapisan Ozon, maka semakin sedikit sinar ultraviolet yang menembus atmosfer untuk masuk ke bumi.

Di lain pihak, manusia juga membutuhkan ultraviolet ini guna menunjang ketersediaan vitamin D bagi setiap orang. Oleh karena itu, ozon perlu dijaga konsentrasinya sehingga kehidupan dapat berjalan.

Perubahan iklim sendiri disebabkan oleh penumpukan gas-gas rumah kaca di atmosfir yang menyebabkan panas matahari yang harusnya menembus bumi, menjadi terperangkap di atmosfir. Gas-gas rumah kaca ini memiliki fungsi untuk menyerap matahari dengan komposisi yang tepat, sehingga kelangsungan hidup di bumi memungkinkan.

Dari kedua penjelasan di atas, sebenarnya sudah cukup menjelaskan, bahwa penipisan lapisan ozon itu tidak sama dengan fenomena perubahan iklim; karena dari kedua hal tersebut, dapat dilihat bahwa konteknya sudah berbeda (yang satu ada hubungannya dengan radiasi sinar ultraviolet, sedangkan yang lain berhubungan dengan panas matahari tersebut (bukan radiasinya).

Walau demikian, pada saat kedua fenomena ini terjadi bersamaan, maka dampak yang diterima bumi berganda. Itu sebabnya, sebaiknya kedua fenoman ini dihindari.

Semoga penjelasan ini dapat memberikan sedikit pengertian tentang perbedaan keduanya.

ime'...

Wednesday, March 25, 2009

Sequences vs. Causes-Effects : A Way to Understand System Thinking

Beberapa hari yang lalu, salah seorang kolega di kantor saya membaca blog saya yang ini (karena memang saya lagi berusaha mempromosikan blog outer space saya untuk beberapa kalangan tertentu) dan menanyakan tentang system thinking. Saya sih senang-senang saja menjelaskannya, walaupun saya pribadi juga belum berada pada tahap yang advance, tapi saya berusaha memelihara ilmu tersebut dengan cara berlatih dan berlatih (lihat saja postingan-postingan sebelumnya, semuanya system thinking).

Saya memberikan ilustrasi mengenai apa yang akan terjadi pada saat kita merasa kesal di kantor akan berdampak pada hal-hal yang malah bisa membuat diri kita tambah kesal karena kita tidak berusaha untuk mengenali dan mengendalikannya di awal.


Bayangkan apabila anda mendapatkan masalah di kantor yang membuat anda menjadi sangat kesal. Tanpa anda sadari, anda membawa kekesalan tersebut pulang ke rumah. Karena anda tidak dapat mengendalikan kekesalan anda, anda jadi marah dan anda lampiaskan pada dogie anda dengan menendangnya. Spontan si dogie kesakitan, kesal juga; wong lagi tidur enak-enak, tiba-tiba ditendang. Pada saat yang bersamaan, seorang anak kecil berlari lalu lalang di hadapan sang dogie, spontan dogie yang sudah 'panas' menggigit sang anak.

Sang anak terkaing-kaing, eh, salah, menangis meraung-raung kepada sang ibu yang langsung membawa si anak ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan. Selidik demi selidik, sang ibu mendapati bahwa si anak digigit oleh dogie anda. Maka menghamburlah sang ibu kepada anda, guna meng-claim uang pengobatan yang ia lakukan. Anda mau tak mau membayar biaya pengobatan, yang tentu saja menambah kekesalan anda. Melihat dogie anda, pilihannya ada 2: anda kembali melampiaskan kekesalan anda pada dogie atau anda berpikir lain? Coba ingat apa yang dilakukan oleh dogie anda setelah anda tendang.

Seluruh kejadian diatas dapat digambarkan oleh lingkaran sebab-akibat dibawah ini.
Diagram di atas menggambarkan adanya hubungan sebab-akibat antara satu kejadian dengan kejadian yang lain.

Bagaimana dengan sequence?

Sequence berbicara mengenai urutan-urutan kejadian yang terjadi. Mengambil kasus di atas, maka penjelasan mengenai sequence dapat digambarkan dibawah ini.
System thinking sendiri tidak menganut pola berpikir sequence, namun causes-effects. Bagi saya yang adalah orang proses, membedakan hal ini menjadi sebuah tantangan tertentu bagi saya, karena sering kali saya malah membuat alur sequence ketimbang alur sebab-akibat.

Apabila diamati lebih dalam lagi, sequence memiliki lingkup yang lebih sempit ketimbang causes-effects, karena causes-effects melibatkan begitu banyak aktor dan elemen didalamnya sedangkan sequence umumnya hanya melibatkan satu aktor. Itu sebabnya pula analisa dengan menggunakan sequence tidak dapat menjelaskan sampai ke pihak lain, namun lebih didominasi oleh satu pihak.

Saya berharap dari penjelasan ini, akan ada banyak orang yang mengerti mengenai system thinking. Saya juga masih belajar, namun saya percaya, dengan memberikan informasi mengenai hal ini, saya juga semakin memiliki pengetahuan (when you give, you shall receive).

Jadi sekali lagi, sequence itu tidak sama dengan causes-effects dan system thinking menganut system dengan causes-effects ketimbang sequences.

ime'...

Thursday, March 12, 2009

Menurunkan 1 Derajat Pemanas = Mereduksi Emisi?

Judul diatas saya buat sehubungan dengan memori saya akan sebuah acara yang dilakukan oleh sebuah lembaga yang memuat nama salah satu negara terbesar di dunia. Acaranya tentang mitigasi perubahan iklim, ada beberapa topik yang menarik (tentunya selain CDM), yaitu bagaimana CDM setelah tahun 2012 dan apa yang dilakukan oleh beberapa lembaga tertentu dalam rangka mitigasi perubahan iklim. Saya sih tertarik, nggak tau yang lain. Cuman mungkin, yang tentang CDM, bagi saya info yang beredar di sana, saya sudah terlalu lama tahu dan presentasi tentang hal tersebut pun terlihat bagi saya jadi membosankan.

Eniwei, salah satu pihak kedutaan dari negara yang bersangkutan memberikan presentasi mengenai kebijakan apa yang akan mereka terapkan sehubungan dengan mitigasi perubahan iklim. Salah satu hal yang saya dengar adalah mereka memiliki kebijakan untuk menurunkan penggunaan pemanas 1 derajat; jadi misalnya, mereka set pemanas ruangan 25 derajat, maka dengan adanya kebijakan yang satu ini, pemanas ruangan diwajibkan maksimal menjadi 24 derajat. Saya cukup kaget mendengarnya, namun saya pikir, negara ini berani juga yah. Berbicara masalah menurunkan suhu ruangan, itu berarti bicara masalah memobilisasi orang dan bagaimana memonitornya. Sang presenter sih nggak menerangkan detail tentang upaya-upaya mobilisasi yang nantinya (harusnya) digunakan, jadi saya hanya menyimpan itu dalam pikiran saya. Lagipula, isunya kan tentang rencana mitigasi, bukannya rencana memobilisasi.

Berdasarkan informasi tersebut saya membuat sebuah causal loop, dengan menggunakan system thinking untuk melihat apakah kebijakan itu cukup tepat guna. Hasilnya? Lihat gambar di bawah ini.


Berdasarkan hubungan sebab-akibat yang bisa saya susun, saya mendapatkan bahwa penurunan satu derajat dari penggunaan pemanas belum tentu dapat menurunkan emisi negara tersebut. Hal ini disebabkan karena, penurunan satu derajat akan menyebabkan terdapatnya ruangan-ruangan yang lebih dingin sehingga para 'penghuni' ruangan-ruangan tersebut akan beradaptasi melalui pakaian yang digunakan. Dengan demikian, permintaan pakaian (lebih) hangat dan (lebih) tebal akan meningkat. Meningkatnya permintaan, tentu akan meningkatkan produksi/aktivitas industri yang pastinya meningkatkan emisi.

Ada beberapa hal yang memang masih menjadi uncertainty dalam model yang satu ini. Yang terpikir oleh saya adalah apakah produksi garment dilakukan di negara tersebut atau harus melalui transaksi impor? tentunya kalau melibatkan impor, emisi yang dihasilkan menjadi jauh lebih tinggi. Belum lagi apabila produksi dilakukan di negara berkembang, yang rata-rata masih menggunakan bahan bakar fosil dengan efisiensi rendah. Tidak hanya itu, namun transportasi yang terlibat didalamnya juga harus diperhitungkan. Mungkin kalau diproduksi di negara tersebut, emisi yang dihasilkan bisa cukup kompetitif dengan pengurangan 1 derajat.

Kesimpulan yang saya tarik dari pemodelan sederhana ini adalah dikeluarkannya kebijakan penurunan satu derajat ini tidaklah cukup untuk menurunkan emisi tersebut. Kebijakan-kebijakan lainnya juga diperlukan, misalnya di sektor energi, penggunaan mesin-mesin dengan efisiensi tinggi, teknologi yang lebih bersih atau yang lainnya. Kebijakan impor pun sepertinya harus diberlakukan di dalam satu negara (ini seandainya dalam business as usual, garmen berasal dari negara lainnya).

Catatan tambahan:
ini baru dikaitkan dengan emisi, belum dikaitkan dengan ketersediaan bahan baku untuk industri terkait. Kalau dikaitkan lagi, mungkin saja akan terjadi konflik lahan dalam proses pengadaan bahan baku. Tapi, yang dibuat disini hanyalah model yang sangat sederhana.

ime'...

Wednesday, February 18, 2009

Nasib Nelayan

Baru-baru ini saya berkunjung ke salah satu daerah di Indonesia, yang sepertinya masih sepi 'penggemar'. Nggak seperti daerah pantai lain di Jawa Barat, Ujung Genteng menurut saya cenderung sepi pengunjung. Padahal, daerah yang terletak di pinggiran Selatan Pulau Jawa dan langsung terekspos dengan Samudera Hindia ini merupakan salah satu tempat wisata yang menarik. Well, tempat wisata kan nggak selamanya harus ramai terus kan? Memang, Ujung Genteng relatif sepi. Jadi, buat orang-orang yang suka keramaian, pastinya kurang menikmati daerah yang satu ini. Tapi bagi saya, Ujung Genteng adalah tempat yang menyenangkan.

Kunjungan saya ke Ujung Genteng membawa saya untuk bercakap-cakap dengan beberapa penghuni wilayah ini yang kebanyakan adalah nelayan. Ternyata, sudah beberapa minggu terakhir, para nelayan tidak lagi mengerahkan diri mereka untuk menangkap ikan Layur, yang merupakan tangkapan mereka yang utama dan termahal. Hal ini disebabkan oleh adanya gelombang tinggi yang menciutkan nyali para nelayan ini. Bagaimana tidak, mereka harus menempuh jarak puluhan mil ke tengah Samudera untuk mengais nasi. Namun, dengan adanya gelombang tinggi, lebih baik mereka menyimpan nyawa mereka untuk sementara dari amukan samudera. Gelombang tinggi ini pastinya terjadi karena adanya perubahan cuaca yang signifikan; jika keadaan cuaca untuk beberapa tahun terakhir dirata-ratakan, kemudian dibandingkan dengan rata-rata cuaca dalam beberapa tahun sebelumnya, lalu didapatkan deviasi yang sangat besar, bisa jadi gelombang tinggi ini memang disebabkan karena perubahan iklim sedang terjadi.

Dari sini, saya (kembali) membuat causal loop berdasarkan pemikiran saya sendiri mengenai pengaruh dari perubahan iklim terhadap pendapatan masyarakat, terutama nelayan dalam konteks ini.

Loop diatas menunjukkan loop reinforcing; yang apabila digambarkan maka perilaku model akan menunjukkan perilaku yang eksponensial, bisa bertumbuh terus atau malah berkurang terus menerus. Kalau yang bertumbuh terus, dengan hanya memperhitungkan komponen-komponen diatas, keuntungan nelayan dari melaut pastinya akan terus meningkat. Namun, apabila ternyata frekuensi melaut dari nelayan terus berkurang (karena efek gelombang tinggi), maka dapat dikatakan bahwa keuntungan nelayan dari melaut pastinya berkurang drastis.

Ini hanya contoh sederhana saja sebenarnya. Intervensi dari pemerintah untuk membantu para nelayan ini bisa bermacam-macam. Salah satu yang saya lihat di lapangan sih, mungkin pemerintah bisa membantu Ujung Genteng untuk mengembangkan potensi pariwisatanya. Potensi pariwisata ini tentunya akan membuka begitu banyak peluang untuk masyarakat Ujung Genteng dapat meningkatkan ekonomi mereka (buka warung untuk para turis, bisnis merchandise dan lain sebagainya).

Namun tentu saja, itu barulah kesimpulan kasar yang saya buat. Untuk bisa mengembangkan pariwisata di Ujung Genteng pun, pemerintah masih harus mengeluarkan effort dalam mendidik masyarakat sekitar mengenai pariwisata dan juga membina sekelompok masyarakat untuk membuat industri rumah suvernir untuk para turis. Belum lagi upaya-upaya untuk mendatangkan turis ke daerah tersebut.

Saya sih yakin, kalau saja Ujung Genteng menjadi salah satu prioritas dari pemerintah, pastinya daerah ini akan sangat berkembang dan pada saat gelombang tinggi, para nelayan masih tetap memiliki penghasilan.

Yah, begitulah oleh-oleh saya dari Ujung Genteng. Semoga dapat dinikmati :)

ime'...

PS: cerita Ujung Genteng lainnya ke sini aja.

Tuesday, February 03, 2009

Benarkah Ketersediaan Pupuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani?

Membaca sebuah artikel di Jakarta Post tertanggal 28 januari 2009 membuat saya tergerak untuk membuat tulisan yang satu ini. Menurut saya, tulisan yang ada di Jakarta Post tersebut sangat menarik, karena sang penulis melihat permasalahn ketersediaan pupuk dan dampaknya bagi petani dari sisi yang lai. Yang saya tangkap, ketersediaan pupuk tidak selalu menjadi jawaban atas masalah perekonomian petani. untuk mengetahui kebenaran hal tersebut, saya membuat sebuah mental model dengan menggunakan metodologi system thinking dan saya gambarkan dengan menggunakan software Vensim PLE, karena menurut saya, software yang satu ini dapat digunakan untuk menggambarkan gelung kausal dengan baik. Dari simulasi yang saya lakukan, saya mendapatkan kesimpulan bahwa ketersediaan pupuk tidaklah menjamin pertumbuhan ekonomi petani secara jangka panjang.
Gambar 1 Dampak dari Penggunaan Pupuk terhadap Pertumbuhan Ekonomi Petani

Gambar 1 menunjukkan bahwa penggunaan pupuk akan meningkatkan produktivitas tanah yang akan berakibat pada jumlah tanaman pangan yang dapat tumbuh. tentu saja hal ini akan meningkatkan ekonomi dari petani, karena semakin banyak hasil yang dapat dipanen oleh petani, maka pendapatan para petani pun akan meningkat. Hal ini akan mengakibatkan petani berpikir bahwa adanya pupuk akan meningkatkan hasil panen mereka, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan mereka. Untuk jangka pendek, hal ini sangat menggiurkan bagi para petani. Bagaimana dengan penggunaan pupuk untuk jangka panjang?


Gambar 2 Efek Penggunaan Pupuk untuk Tanaman Pangan Terhadap Ekonomi Petani

Gambar 2 menunjukkan dampak dari penggunaan pupuk untuk jangka panjang. Melalui gambar ini pun terlihat bahwa penggunaan pupuk yang berlebihan akan berdampak pada penurunan ekonomi petani. Hal ini disebabkan karena penggunaan pupuk yang berlebihan akan menurunkan kualitas sumber daya alam sekitarnya (terutama kualitas air sungai yang akan menurunkan ketersediaan sumber protein dan menurunkan produktivitas tanah).

Gelung kausal di atas menunjukkan, bahwa ketersediaan pupuk (yang sampai dengan saat ini masih kaya akan bahan kimia) tidaklah menjamin pertumbuhan ekonomi petani atau meningkatkan kesejahteraan petani. Pupuk yang kaya akan bahan kimia kini justru akan mempersulit para petani karena kerusakan yang terjadi akibatnya akan meningkatkan pengeluaran mereka sehari-hari.

Penurunan kualitas air sungan akan membuat para petani harus mengeluarkan uang lebih untuk kesehatan serta kebutuhan sehari-hari. belum lagi ditambah dengan harga air yang memiliki kualitas; yang secara teori, apabila sumber air bersih sulit untuk didapat, maka harga air akan melambung tinggi. tentu saja, pengeluaran untuk air bersih akan sangat tinggi.

Disini saya melihat bahwa masalah dari petani bukan hanya bagaiana menyediakan pupuk (yang saat ini masih mengandung bahan kimia tinggi), namun bagaimana bisa meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus menjaga kualitas sumber daya supaya tidak menurunkan kemampuan masyarakat untuk hidup.

Hal ini sepertinya terlewatkan oleh pemerintah kita. Tentu saja, sebagai manusia yang telah terbiasa menggunakan sebuat produk dan terlanjur menaruh kepercayaan tinggi terjadapnya, cukup sulit untuk membuat masyarakat berpaling pada pupuk (misalnya) kandang atau yang lainnya guna meningkatkan produktivitas tanah mereka. teknologi pun mungkin diperlukan untuk menciptakan pupuk yang kandungan bahan kimianya tidak setinggi yang ada sekarang. Namun tentunya, sebuah studi juga harus dilakukan untuk dapat membuktikan seberapa besar pengaruh yang diakibatkan oleh kandungan pupuk tersebut terjadap sumber daya alam di sekelilingnya.

ime'...