Tuesday, February 02, 2010

Muka 'Micin'

Note: Micin adalah sebutan beberapa orang untuk penyedap makanan.

Pulang kantor di atas jam 7 malam membuat saya inginnya naik taksi menuju rumah, yang jaraknya tidak seberapa jauh dari kantor. Lelah, pekerjaan juga belum selesai, membopong laptop di punggung melengkapi 'penderitaan' saya di hari Selasa. Itu sebabnya, naik taksi menjadi sebuah alternatif yang menggiurkan bagi saya.

Saya pun kemudian menyetop taksi di jalan, untuk mengantarkan saya pulang.

Tak berapa lama setelah saya menaiki taksi tersebut, sang pengemudi angkat bicara. "Ibu, apakah ibu sudah berkacamata?" Walaupun saya menggunakan soft lens, bisa saja saya iseng mengingkarinya; tapi, saya memilih jujur. Lalu, mulailah rentetan kalimat dengan intonasi tegas dan bernada 'menjual produk' keluar dari mulutnya.

"Mie, telur, ayam dan es," itu adalah kalimat yang ia keluarkan. Ia berkata-kata bak penjual yang sedang menjual dagangannya, "Boleh ya, bu, dilihat saja bu. Pisau ini banyak kegunaannya, bisa untuk memotong buah, daging, atau jari," yah... seperti itulah. Saya pun mendengarkan.

Perkataan beliau memberikan celah berpikir bagi saya untuk mencerna kata-katanya. "Saya sudah mengalami yang namanya asam urat, bu. Lalu, saya berhenti mengkonsumsi mie, telur ayam broiler, ayam broiler dan es. Sekarang, saya tidak pernah lagi bermasalah dengan asam urat saya," demikian kesaksiannya. Lalu ia menambahkan, tentang bagaimana orang 'jaman dulu' justru memiliki ketahanan yang lebih ketimbang orang 'jaman sekarang'. Itu pun, saya harus mengakui beliau benar. Orang-orang jaman sekarang, kerentanannya semakin tinggi; sulit menyusui karena air susunya kurang, dan beberapa contoh lainnya.

Saya mencoba merekap dan menganalisa perkataan-perkataannya. Tapi, sekali lagi, saya memang harus mengakui kebenaran analisa-nya yang beliau sampaikan melalui perkataannya. Saya berkesimpulan bahwa zaman sekarang sudah sangat berubah dengan segala kemudahannya. Kemudahan yang membawa pada kenikmatan dan puas diri. Tapi ternyata, tidak semua kemudahan itu berdampak baik pada kita.

Saya jadi belajar, bahwa di dalam hidup ini, kita harus pintar dalam memilih situasi dan kondisi untuk kita hidup. Kemudahan tidak selamanya baik; ada proses yang memang harus kita lewati untuk menjadi manusia yang lebih baik. Walau terkadang, rasanya ingin sekali seluruh proses-proses ini hilang hanya dengan jentikan jari.

Pada akhirnya, saya berkesimpulan, bahwa seluruh keinstanan dan juga jalan-jalan yang (terlihat) indah tidak selalu berdampak baik. Muka Micin, menjadi bukti yang paling kuat.

ime'...

0 comments: