Monday, April 26, 2010

Suara-Suara Diri

Salah satu keunikan dari naik angkutan umum, terutama bis kota, adalah kesempatan untuk melihat beberapa orang beraksi dengan apa yang mereka sebut sebagai kebisaan mereka. Tentu saja, kebanyakan dari mereka adalah pengamen-pengamen jalanan. Kebanyakan pengamen yang saya temukan bersuara ngaco, tapi segelintir orang bersuara emas; dan salah satu pengamen bersuara emas, saya temukan pagi ini di bis yang saya tumpangi.

Bersamaan dengan itu, saya sedang membaca buku tentang passion. Sempat terbersit di kepala saya, apakah orang-orang bersuara emas ini, terpaksa mengamen sebagai ungkapan diri mereka? Well, saya nggak paham sih. Tapi, yang saya paham adalah pengamen itu benar-benar menikmati keadaannya pada saat ia menyanyikan lagu itu. Bagaimana saya bisa mengetahuinya, karena saya melihat bagaimana kaki si pengamen tersebut mengikuti beat lagu yang dimainkannya.

Saya jarang sekali memberikan uang pada pengamen; tapi, kalau menurut saya pengamen itu memang punya potensi, mengapa tidak? Toh, saya juga seringkali mendapatkan uang karena saya berkarya lewat apa yang saya bisa.

Lucu yah... suara-suara diri itu, tidak selalu membawa kita pada harta. Tapi yang jelas, suara-suara diri selalu membawa kita pada kebetahan dan kecukupan dalam hidup.

Atau tidak?

ime'...

0 comments: